23 November 2017

“DEAR HUSBAND”, KUMPULAN SURAT CINTA YANG MENUNJUKKAN KETULUSAN DAN KETERIKATAN PENULIS PADA PASANGAN





 Judul buku                    :    Dear Husband
Penulis                          :    Afifah Afra, Sinta Yudisia, Laila, dkk.
Tahun terbit                  :    November 2016
ISBN                            :    978-602-6344-07-7
Ketebalan                      :    128 halaman
Cover                            :    Soft Cover
Penerbit                         :    Indiva Media Kreasi
Harga buku                   :    -

            Melihat  cover dan membaca judul buku ini  tak urung mengingatkan saya pada tahun-tahun 90-an ke belakang di mana orang-orang masih menggunakan surat untuk berkomunikasi dengan lainnya. Termasuk didalamnya urusan cinta. Pada masa itu jamak bagi pasangan untuk mengungkapkan isi hatinya lewat selembar surat berisi kalimat puitis dan romantis.
            Sekarang situasi sudah berbeda. Pola komunikasi berubah masa kini telah berubah. Kecepatan komunikasi di era digital membuat acara mengirim dan menerima pesan terjadi secara instan. Anda bisa dengan mudah menerima pesan singkat yang terdiri dari beberapa kalimat, lalu membalasnya dengan cepat dengan emosi yang sama pula. Saat Anda tengah tenang mungkin tak apa-apa, tetapi emosional melanda  perbedaan penafsiran bisa jadi pangkal permasalahan.

23 Oktober 2017

GURU TERBAIK BERNAMA PEMATERI YANG MEMBOSANKAN



Suatu hari di sebuah pelatihan menulis yang diadakan Bekraf...
Beberapa orang keluar dan tidak kembali. Yang lain terkantuk-kantuk dan mulai sibuk corat-coret buku catatannya sendiri-sendiri. Saya sendiri tak kalah sibuk, sibuk berangan-angan sambil nengok kiri-kanan. Beberapa orang nampak tidak sabar. Berkata lirih dengan teman sebelah soal topik yang diulang-ulang dari awal sang pemateri memberi paparan soal novelisasi film.

Saat istirahat saya sempat berkata pada teman, pemateri kedua ini njomplang dibanding pemateri lainnya. Dari sisi literasi kurang, komunikasi apalagi, penguasaan medan tak bisa dibahas. Aduh Mak...pelatihan menulis yang diadakan sebuah badan pemerintahan itu jadi sia-sia saja kesannya karena membawa pemateri yang salah. Ia bahkan tidak mampu menjawab pertanyaan dengan taktis, terasa nggrambyang, dan terkadang tidak nyambung babar blas. Rasa-rasanya tidur jauh lebih baik daripada bertahan di ruangan.
Tapi, beberapa waktu kemudian saya tersadar. Okelah dia tak berhasil jadi penyampai pesan yang mumpuni pada materi yang dia sampaikan. Tetapi, saya juga tak perlu menyombongkan diri dengan berkata ia belum layak tayang. Toh, seorang pemateri handal sebenarnya juga belajar dari banyak kesalahan. Jika pemateri pertama dan kedua begitu enak menyampaikan itu juga disebabkan karena jam terbang.

16 Oktober 2017

MY GENERATION, FILM YANG MENGANGKAT KESENJANGAN ANTARA ORANG TUA DAN GENERASI MILENIAL

  
Dari kiri ke kanan : Konji, Zeke, Orly, dan Suki  (credit IG : @upirocks)

            Membicarakan anak muda  tak urung mengingatkan saya pada lagu lama Bang Rhoma yang berjudul Darah Muda. Saya tak ingat keseluruhan liriknya kecuali beberapa, salah satunya  “Masa muda masa yang berapi-api”. Kalimat ini memang pas menggambarkan kondisi anak-anak ketika mulai menginjak usia remaja. Perubahan perilaku dan keberanian mereka mencoba sesuatu terkadang mencemaskan. Agar anak-anak ini tak tersesat jalan di rimba raya dunia, orang tua jelas melakukan perlindungan. Akan tetapi, kerap kali caranya tak sejalan dengan pemikiran anak muda. Orang tua menggunakan “kacamata lampau” untuk memahami anak muda. Sementara anak muda merasa cara-cara itu sudah tak sejalan dengan realita. Tak pelak kondisi ini memunculkan gap antara keduanya.


            Kesenjangan semacam inilah yang rupanya hendak ditangkap Upi, sutradara mumpuni yang sebelumnya berhasil membesut film sebeken My Stupid Boss (2016), lewat film “My Generation”. Diperlukan riset selama dua tahun sebelum benar-benar membuat film ini. Hal ini dilakukan Oleh Upi semata untuk menunjukkan seperti apa realita generasi milenial sesungguhnya. Bagaimana perilaku mereka kala bersosial media, apa yang kerap mereka bicarakan, bahkan hingga tutur dan gaya bahasa yang digunakan. Tidak heran kita akan mendapat para tokohnya berbicara menggunakan bahasa campur-campur antara Indonesia dan Inggris kala berdialog, karena sejatinya begitulah cara anak sekarang berkomunikasi. Utamanya di perkotaan.